Mengenal Dan Memahami Diri Sendiri
Ada pertanyaan.
"Sudahkah mengenal diri sendiri ?"
Apabila hal itu ditanyakan kepada kita, apa jawaban kita ?
Jika jawabannya "Sudah"
Sejauh mana kita mengenal diri kita ?
Jika jawabannya "Tidak"
Bukankah suatu keanehan jika kita tidak mengenal diri sendiri ?
Seperti makan buah simalakama atau dengan kata lain "Maju kena mundur juga kena".
Pengenalan diri adalah sebuah tantangan berkesinambungan. Itu juga yang menjadikannya menyenangkan.
Mengenal diri sendiri adalah perkara "Menjelajahi" :
Siapa saya ?
Apa yang saya suka ?
Apa yang tidak saya suka ?
Apa yang saya inginkan ?
Apa yang saya rasakan ?
Apa yang saya percayai ?
Apa yang saya bela ?
Dan apa yang menurut saya bisa saya berikan pada dunia ?
Banyak sekali manfaat yang bisa kita pelajari dan kita hasilkan apabila kita bisa memahami dan mengenal diri kita sendiri.
Manfaat yang bisa kita rasakan adalah upaya pengembangan diri dapat lebih efektif.
Mengenal diri akan membantu kita memahami bahwa kita tidak tercipta secara kebetulan.
Jika kita menginternalisasi dan menghayati akan keberadaan diri kita, maka kita akan sampai kepada kesimpulan yang tidak terelakkan bahwa Tuhanlah yang menciptakan seluruh keberadaan.
Kita tidak mewujud dengan sendirinya atau hanya karena persemaian antara sperma dan ovum dari kedua orang tua kita.
Manusia secara natural senantiasa mencari alasan keberadaannya :
Darimanakah kedatanganku ?
Ke mana langkah yang aku tuju ?
Untuk tujuan apa keberadaanku ?
Dengan mengenal diri, kita akan memperoleh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan eksistensial tersebut.
Mengenal diri sendiri juga dapat membantu kita mengetahui kemampuan dan bakat dalam diri kita.
Demikian juga sebaliknya, jika kita mengenal diri kita, maka kita juga mengetahui kekurangan dan kelemahan yang ada pada diri kita.
Dengan demikian, kita dapat menjadi diri kita sendiri.
Kunci proses pengembangan diri adalah mengenal diri sendiri.
Ini tidak hanya berlaku bagi keberhasilan di bidang karier, melainkan juga di berbagai bidang kehidupan lainnya, termasuk keluarga, sosial masyarakat, dan spiritual.
Dengan mengenal diri sendiri, seseorang mengetahui apa yang mesti jadi tujuan hidupnya. Ia menyadari kemampuan dan bakat-bakatnya serta tahu bagaimana menggunakannya demi mencapai tujuan tersebut.
Dengan demikian ia lebih mampu menemukan makna dari hidupnya.
Salah satu cara supaya kita mengenal diri kita sendiri adalah :
1. Bersikaplah jujur kepada diri sendiri.
Seringkali menjadi jujur pada diri sendiri terasa menyakitkan.
Banyak orang merasa berhenti dalam kariernya.
Mereka menganggap orang lain dan lingkungan sebagai sumber kegagalan.
Mereka mengingkari bahwa penyebabnya justru berasal dari dalam diri mereka sendiri.
Di lain pihak, seringkali orang tidak mampu jujur pada diri sendiri, karena salah dalam memahami keberhasilan yang sedang diraihnya.
Banyak orang berhasil, lalu mengira mampu melakukan apa saja.
Mereka mengembangkan kedua belah lengannya lebar-lebar dan menyangka akan berhasil di semua hal.
Mereka tidak mau mengakui, bahwa ada batas-batas yang tidak mungkin dilalui.
Jujur pada diri sendiri adalah bersedia untuk menerima segala sesuatu apa adanya.
Mengenali diri sendiri adalah belajar untuk menilai dan memahami diri sendiri dengan pikiran jernih tanpa dibebani dengan prasangka, harapan, ketakutan dan perasaan-perasaan lain.
2. Memaafkan segala sesuatu yang sudah terjadi, dan menerima sebagaimana adanya dengan hati lapang.
Mengenal diri sendiri bukan sekedar mengenal nama, alamat, usia, dll.
Mengenal diri sendiri adalah proses dan hubungan timbal balik antara seseorang dengan dirinya sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang terbiasa untuk berhubungan dengan orang lain. Mereka mengembangkan berbagai cara komunikasi efektif dengan orang lain demi tercapainya tujuan.
Demikian pula halnya dengan belajar mengenal diri sendiri, seseorang harus mengembangkan bentuk komunikasi timbal balik yang baik dengan dirinya sendiri.
Mereka harus menumbuhkan kemampuan untuk melihat dan mendengar apa yang dikatakan oleh dirinya sendiri agar mampu memahaminya dengan baik.
Proses itu adalah ketrampilan yang harus diasah terus-menerus.
Pada awalnya selalu terasa berat, karena sebelum bertindak, seseorang harus mengkomunikasikannya terlebih dahulu dengan dirinya sendiri :
Apakah ini adalah sesuatu yang sesuai dengan diri saya ?
Apakah ini benar-benar menjadi keinginan diri saya ?
Dengan kata lain proses mengenal diri sendiri adalah proses membangkitkan kesadaran diri. Dan, bagian terberat dalam proses ini adalah belajar untuk disiplin.
3. Melakukan disiplin diri.
Salah satu bentuk disiplin yang menuntun pada pengenalan diri adalah mengamati diri secara cermat, mengamati setiap perasaan, pikiran, harapan, keinginan, kegembiraan dan lain-lain yang terjadi dalam diri sendiri.
Pengenalan diri sendiri adalah upaya dari diri kita sendiri untuk menemukan jawaban jawaban yang ada dalam diri kita.
Para spiritualis biasa melakukan ini dengan bermeditasi, khusyu’k, mengheningkan cipta, atau berbagai istilah lain.
Pengamatan itu menumbuhkan kesadaran yang lebih tenang, yang mampu melihat secara jernih pikiran dan perasaan yang sedang terjadi, kemampuan, bakat dan ketrampilan yang dimiliki, kekuatan dan kesempatan untuk menggunakan semua pikiran, perasaan, kemampuan, bakat dan ketrampilan itu untuk sebaik-baiknya dikehidupan karier.
Pengamatan diri ini dapat dilakukan di setiap saat sambilan melakukan kegiatan sehari-hari. Justru dalam kegiatan sehari-hari itulah seseorang berkesempatan untuk menyadari betapa banyak gejolak pikiran, perasaan yang muncul silih berganti.
4. Menjadi diri sendiri.
Banyak orang mengaburkan arti "Menjadi Diri Sendiri” dengan “Semaunya Sendiri”.
Menjadi diri sendiri melalui proses mengenal diri adalah menumbuhkan pengendalian diri, karena dalam mengembangkan diri, seseorang harus senantiasa berjalan pada potensi-potensi yang dianugerahkan padanya.
Selain itu, banyak orang menjadi apa yang dikatakan orang lain dan menganggapnya itu sesuai dengan dirinya.
Yang perlu disadari adalah "bahwa setiap orang itu berbeda dan unik". Tidak ada orang yang sama. Mereka dianugerahi kemampuan, potensi dan bakat yang berbeda-beda.
Tugas manusia adalah menggunakan semua itu untuk kemajuan kehidupan.
Tujuan mengenal diri untuk pengembangan karir adalah mengenal apa potensi-potensi, bakat-bakat, kemampuan dan ketrampilan yang ada pada diri agar bisa digunakan untuk kemajuan karir.
Selain itu, mengenal diri akan menumbuhkan kesadaran dan pengendalian diri, suatu bentuk pengembangan emosi dan spiritual yang dibutuhkan untuk mengiringi langkah kemajuan karir.
Untuk bisa mengenal diri, kita wajib instrospeksi diri, wajib mengkaji diri meluangkan sedikit waktu kita untuk merenungi diri :
Apa yang sudah kita lakukan hari ini ?
Berapa banyak kesalahan dan kekurangan kita hari ini ?
Berapa banyak kita memuji dan menolong orang lain ?
Bila perlu bikin tabel kebaikan dan kejelekan prilaku kita.
Kurangi mengoreksi dan mengomentari orang lain, dan lebih fokus pada mengomentari dan mengoreksi diri kita sendiri.
Terkadang kita sibuk memikirkan dan mencari kesalahan orang lain, padahal kesalahan dan kekurangan kita sendiri sangat banyak tapi tidak pernah kita pikirkan.
Intinya adalah "SADAR", yang dimaksud sadar ini bukan hanya sekedar tersadar dari pingsan atau tersadar dari lamunan atau sadar -sadar secara umum, tetapi lebih mendalam lagi.
Sadar yang di maksud adalah "Keadaan yang kosong", keadaan yang mengerti dan memahami apa yang terjadi saat ini, kemarin dan seterusnya.
Maksud dari keadaan yang kosong :
Pernahkah kita ketika melihat telur yang agak lonjong dan ketika kita lihat menjadi berbeda ?
Pernahkah kita ketika ada warna merah dan ketika kita melihatnya bukan warna merah ?
Keadaan kosong adalah :
Ketika ada warna merah, maka kita melihatnya merah.
Ketika ada telur, maka kita melihatnya telur.
Ketika ada huruf A maka kita memahami itu huruf A.
Itu adalah kesadaran awal.
Pernahkah kita memikirkan sesuatu hal pada siang dan malam tanpa henti, sehingga ketika ada orang berbicara kita tidak mendengarnya atau kita sedang disibukkan oleh pikiran kita sendiri, ( Kita begitu asik dengan pikiran kita sendiri dan terhanyut oleh keadaan yang kita pikirkan ), sehingga yang kita alami dan kita rasakan hanya apa yang ada di pikiran kita ?
Jika kita pernah merasakannya ?, bahkan kita tidak ingat lagi apa yang sedang kita lakukan saat itu.
Pada saat kita sedang memikirkan sesuatu dan pikiran itu membuat kita terhanyut.
Seringkali kita lupa :
Ketika kita makan dan tidak merasakan rasa makanan.
Ketika kita tersentuh api, kita tidak merasakan panas.
Ketika kita tersentuh es, kita tidak merasakan dingin.
Atau kalau masih bingung coba perhatikan orang gila yang begitu asik dengan pikirannya sendiri.
Atau perhatikan orang yang sedang melamun dan asik dengan lamunannya; hal itu yang namanya isi.
Fikiranya di penuhi oleh fikiran-fikiran tertentu sehingga fakta yang sebenarnya, yang dialami tidak dihiraukan / tidak dirasakan / tidak di ingat.
Ketika kita sadar maka saat itu kita telah masuk ke alam kosong, kita melihat / mendengar / atau merasakan sesuai dengan apa adanya :
Ketika ada warna merah, maka kita melihatnya merah.
Ketika ada orang berbicara rumah, maka kita mendengarnya rumah.
Ketika tubuh kita tersentuh api, maka yang kita rasakan adalah panas.
Ketika tubuh kita tersentuh es, maka yang kita rasakan adalah dingin.
Demikian juga sebaliknya dengan kalimat berisi, ketika yang kita gumulkan ( Pikirkan / Rasakan ) saat ini hijau, maka warna apapun yang kita lihat menjadi warna hijau.
Untuk bisa mengenal diri, kita wajib instrospeksi diri, wajib mengkaji diri dan yang paling penting adalah kita hendaknya "SADAR" atau dalam keadaan kosong.
Untuk memahami dan mengenal tentang diri kita maka alangkah baiknya jika diulas dari awal penciptaan manusia.
Akan ada beberapa pendapat yang sangat kita hargai di bawah ini.
Manusia bukankah terdiri dari Jasmani, Jiwa dan Roh.
Setiap keyakinan mengakui hal itu; bahwa tiga hal itu yang menjadi dasar dari keyakinan manusia.
Banyak pendapat yang mengatakan; bahwa manusia normal adalah manusia yang mempunyai Jasmani, mempunyai jiwa dan mempunyai Roh.
Dan apabila salah satu tidak terpenuhi, maka itu bukan manusia normal. Ada yang berkeyakinan akan sependapat bahwa manusia terdiri dari Jasad, Jiwa dan Roh.
Manusia diciptakan dari "Debu Tanah".
"Debu Tanah" adalah benda mati, kemudian Allah menghembuskan "Nafas Hidup", kemudian manusia menjadi mahluk yang hidup.
Jasad berasal dari "Debu Tanah" dan "Nafas Hidup" yang menghidupkan. Manusia mengenalnya dengan Roh.
Keyakinan agama -agama besar saat ini menyakini bahwa unsur manusia ada 3 hal yaitu; ada jasad, ada Jiwa dan ada Roh, tetapi ada pendapat yang berbeda yaitu; bahwa bagian dari diri manusia hanya ada dua hal yaitu; "Jasad dan Roh".
Hanya ada dua unsur yaitu; "Debu tanah" dan "Nafas hidup".
Ada analisa yang dapat dipertanggungjawabkan baik kepada kita ( Manusia ) dan kepada Tuhan.
"Debu Tanah" dan "Nafas Hidup":
"Debu Tanah" adalah pendukung unsur Jasad / Tubuh secara Fisik".
"Nafas Hidup" adalah identik dengan pengertian Roh".
Roh yang memberi hidup pada "Debu Tanah".
Kemudian dimana letak jiwa manusia ? Apa itu jiwa, dari mana ada istilah jiwa ?
Pertanyaan yang bertubi tubi akan mengalir seperti sungai yang selalu dialiri oleh air, tidak ada habisnya.
Kita sering mendengar atau mungkin kita pernah mengatakan "Sakit Jiwa", dalam bahasa Sunda "Nu Gelo", dalam bahwa jawa "Wong edan" / "Wong Gendeng" atau istilah istilah lain, tetapi maksudnya sama yaitu orang yang tidak waras, atau orang gila, atau orang yang jiwanya sakit.
Bahkan manusia secara umum berpendapat; bahwa jiwa itulah yang membedakan manusia dengan mahluk ciptaan Tuhan yang lainnya.
Kalau pendapat demikian benar, berarti mahluk ciptaan Tuhan yang lain selain manusia tidak punya jiwa ?
Mengapa tidak memasukkan unsur jiwa sebagai bagian penyusunan diri manusia ?
Berpendapat bahwa yang dimaksud dengan jiwa adalah perpaduan dari "Jasad dan Roh".
Jiwa ini adalah tempat untuk mempertimbangkan dan membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, jiwa mempertimbangkan benar dan salah, kasih, benci, dll.
Jiwa ada karena "Debu Tanah" yang berpadu dengan "Nafas Hidup" sehingga manusia menjadi mahluk hidup.
Lalu dimanakah letak jiwa ? Banyak pendapat yang mengatakan bahwa jiwa terletak di otak, ada juga yang berpendapat bahwa jiwa terletak di hati dan masih banyak lagi pendapat pendapat yang berbeda.
"Kita akan menghargai pendapat"
Jiwa terletak di seluruh bagian tubuh karena sesuai dengan pendapat yang sebelumnya, jiwa timbul karena bersatunya "Debu Tanah" dengan "Nafas Hidup".
Seluruh bagian tubuh manusia itu namanya jiwa, hanya saja jiwa lebih halus dari jasad kasar. Hanya saja jiwa lebih dominan di otak, jantung dan hati manusia.
Mengapa ?, karena bagian tersebut yang sering dilatih. Otak sebagai pusat akal, hati sebagai pusat pertimbangan dan jantung sebagai pusat pengertian dan semuanya terkait sangat erat dengan bagian bagian dari tubuh manusia ( Yang dimaksud tubuh manusia adalah "Debu Tanah" dan "Nafas Hidup" yang telah berpadu ).
"Nafas Hidup" atau lebih familiar sebagai Roh adalah sumber hidup. Roh ada pada setiap mahluk yang hidup.
Kita saat membaca dan menulis tulisan ini adalah manusia yang hidup, tetapi pertanyaannya adalah "taukah dimana letak Roh kita ?".
Sebuah keanehan ketika kita yang hidup ini tidak mengetahui sumber kehidupan pada diri kita sendiri, dimana letak sumber kehidupan tersebut ( Roh ).
Banyak pendapat yang mengatakan bahwa :
Roh berpusat di Cakra mahkota yang terletak di otak pusat fikir manusia.
Roh berpusat di hati.
Roh bersumber dari sel indung telur dan Sperma yang menyatu sehingga menjadi sigote ( Janin ).
Roh berpusat di jantung, karena jika jantung berhenti ( Tidak berdetak ) maka manusia dipastikan sudah mati.
Roh ada di paru-paru atau saluran pernafasan, kerena Tuhan menghembuskan nafas hidup melalui hidung.
Serta masih banyak lagi pendapat. Silahkan saja berpendapat dan menghargai pendapat.
Tetapi dimana kita dapat memperoleh benang merahnya ?
Roh atau nafas kehidupan adalah bagian terpenting dari mahluk hidup sehingga dapat hidup.
Bagi manusia yang tercipta dari "Debu Tanah" maka hanyalah "Debu Tanah" jika Tuhan tidak menghembuskan Nafas Hidup.
Roh adalah misteri, tetapi benarkah sebuah misteri ? dan mengapa mejadi misteri ?
Pertanyaan ini terasa berat untuk di jawab.
Apakah kita saat membaca dan menulis tulisan ini adalah manusia yang hidup ? Tentu saja "YA". Berarti di dalam diri kita saat ini ada Roh, karena kita hidup.
Bisakah kita saat ini merasakah keberadaan Roh kita ?
Tidak ada seorangpun yang mengetahui dengan pasti dimana letak Roh. Bukankah aneh ?
Mengaku hidup tetapi tidak mengetahui dimana letak sumber hidupnya.
Manusia hanya bisa merasakan bahwa dirinya hidup, tetapi tetap sebuah misteri mengenai Roh.
Sebegitu halusnya Roh, sehingga jasad kasar ini tidak dapat merasakannya.
Manusia moderen yang lebih berfokus pada kemampuan fisik lebih lebih kemampuan intelegensia ( Otak ) yang paling sering digunakan sehingga tidak mampu menembus Roh yang sejatinya sangat halus.
Sehingga kita yang saat ini hidup tidak dapat memahami dan mengetahui keberadaan Roh yang ada pada diri sendiri.
Karena yang hidup dari diri manusia adalah seluruh bagian manusia hidup, dari ujung rambut hingga ujung kaki, maka sejatinyalah Roh berada juga di seluruh bagian yang hidup tersebut.
Jika tidak, maka "Debu Tanah" itu akan tetap menjadi "Debu Tanah.
Sama hal nya seperti sebuah pohon, saat daunnya gugur / rontok apakah daun itu dikatakan hidup ?
Faktanya saat ini manusia bisa mengembangkan berjuta juta tanaman baru dari daun atau bagian tanaman yang terlepas dari induknya ( Yang notabane bagian tanaman mati ) dengan metode.
Buah yang mengandung biji misalnya buah harus gugur / terjatuh yang otomatis terlepas dari pokoknya, bukankah biji yang berada didalam buah secara kultur telah mati karena tidak terhubung dengan pokoknya, tetapi perlu diingat bahwa biji yang telah mati tersebut mengandung embrio kehidupan yang dapat tumbuh menjadi benih, bibit dan menjadi tumbuhan.
Roh itulah bagian yang paling murni dari mahluk yang hidup. Roh yang memberi hidup yang tinggal dan ada pada diri kita ( Manusia ).
Roh adalah bagian terpenting dari diri kita, tetapi karena Roh itu tidak dapat kita ketahui keberadaannya, maka seringkali kita hanya berfokus pada jasad kasar kita atau paling dalam hanya sebatas pada olah jiwa.
Roh ini tidak tersentuh sama sekali dan tidak terpahami.
Roh ini berasal dari Tuhan dan adalah bagian dari Tuhan, atau dengan kata lain Roh itu adalah Tuhan.
Jika Roh ada pada mahluk yang hidup maka disana juga ada bagian dari Tuhan.
Biarlah Roh ini tetap menjadi misteri, karena memang adalah rahasia Tuhan.
Apa yang bisa kita petik dan pelajari dari tulisan ini adalah; jika kita mengenal dan memahami Roh yang ada pada diri kita, maka kita juga dapat mengenal Tuhan dan memahami Tuhan.
Itulah alasan mengapa kita tidak perlu mencari Tuhan ditempat tempat tertentu di dunia ini, karena bisa dipastikan kita tidak akan menemukannya.
Jika kita mencari tuhan diluar diri kita, maka kita hanya bisa menemukan Keagungan dan Kemuliaan Tuhan. Kita tidak akan bisa menemukan Tuhan.
Untuk itulah tulisan ini ada, dengan harapan kita semua dapat "Menyadari" dan memberikan "Inspirasi" agar jika kita ingin menemukan Tuhan maka janganlah mencari ditempat lain, tetapi carilah didalam diri kita sendiri.
Karena didalam diri kita ada bagian dari Tuhan yang dapat menghubungkan kita dengan Tuhan; yaitu Roh kita sendiri.
Apabila kita memahami dan mengenal Roh yang membuat diri kita hidup, maka dipastikan bahwa pada saat itu kita telah menemukan Tuhan, bahkan akan ada seperti gambar dan rupa Tuhan.
Roh inilah yang menjadi perantara kita ( Mahluk Ciptaan ) dengan Sang Pencipta ( Tuhan ).
Kenali Roh kita, maka kita akan mengenal Tuhan.
Roh itu adalah murni tidak berwarna dan tidak berasa, Dia memberi, menjadikan hidup dan kehidupan.
Bagaimana caranya supaya kita dapat memahami dan mengenal Roh yang ada dalam diri kita ?
Mencondongkan diri kita ke jasad kita yang paling halus, yaitu pada Roh kita.
Kelihatannya mudah karena hanya melihat kedalam diri kita sendiri, tetapi jangan lupa bahwa kita ( Manusia ) yang hidup saat ini tidak dapat mengetahui dan merasakan keberadaan Roh yang ada didalam diri kita.
Berkata memang mudah, tetapi melaksanakannya yang sulit, walaupun kita tidak harus pergi kemana-mana, walaupun kita tidak harus mengeluarkan tenaga atau uang sekalipun.
Salam kenal. 6('2')9
Ada pertanyaan.
"Sudahkah mengenal diri sendiri ?"
Apabila hal itu ditanyakan kepada kita, apa jawaban kita ?
Jika jawabannya "Sudah"
Sejauh mana kita mengenal diri kita ?
Jika jawabannya "Tidak"
Bukankah suatu keanehan jika kita tidak mengenal diri sendiri ?
Seperti makan buah simalakama atau dengan kata lain "Maju kena mundur juga kena".
Pengenalan diri adalah sebuah tantangan berkesinambungan. Itu juga yang menjadikannya menyenangkan.
Mengenal diri sendiri adalah perkara "Menjelajahi" :
Siapa saya ?
Apa yang saya suka ?
Apa yang tidak saya suka ?
Apa yang saya inginkan ?
Apa yang saya rasakan ?
Apa yang saya percayai ?
Apa yang saya bela ?
Dan apa yang menurut saya bisa saya berikan pada dunia ?
Banyak sekali manfaat yang bisa kita pelajari dan kita hasilkan apabila kita bisa memahami dan mengenal diri kita sendiri.
Manfaat yang bisa kita rasakan adalah upaya pengembangan diri dapat lebih efektif.
Mengenal diri akan membantu kita memahami bahwa kita tidak tercipta secara kebetulan.
Jika kita menginternalisasi dan menghayati akan keberadaan diri kita, maka kita akan sampai kepada kesimpulan yang tidak terelakkan bahwa Tuhanlah yang menciptakan seluruh keberadaan.
Kita tidak mewujud dengan sendirinya atau hanya karena persemaian antara sperma dan ovum dari kedua orang tua kita.
Manusia secara natural senantiasa mencari alasan keberadaannya :
Darimanakah kedatanganku ?
Ke mana langkah yang aku tuju ?
Untuk tujuan apa keberadaanku ?
Dengan mengenal diri, kita akan memperoleh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan eksistensial tersebut.
Mengenal diri sendiri juga dapat membantu kita mengetahui kemampuan dan bakat dalam diri kita.
Demikian juga sebaliknya, jika kita mengenal diri kita, maka kita juga mengetahui kekurangan dan kelemahan yang ada pada diri kita.
Dengan demikian, kita dapat menjadi diri kita sendiri.
Kunci proses pengembangan diri adalah mengenal diri sendiri.
Ini tidak hanya berlaku bagi keberhasilan di bidang karier, melainkan juga di berbagai bidang kehidupan lainnya, termasuk keluarga, sosial masyarakat, dan spiritual.
Dengan mengenal diri sendiri, seseorang mengetahui apa yang mesti jadi tujuan hidupnya. Ia menyadari kemampuan dan bakat-bakatnya serta tahu bagaimana menggunakannya demi mencapai tujuan tersebut.
Dengan demikian ia lebih mampu menemukan makna dari hidupnya.
Salah satu cara supaya kita mengenal diri kita sendiri adalah :
1. Bersikaplah jujur kepada diri sendiri.
Seringkali menjadi jujur pada diri sendiri terasa menyakitkan.
Banyak orang merasa berhenti dalam kariernya.
Mereka menganggap orang lain dan lingkungan sebagai sumber kegagalan.
Mereka mengingkari bahwa penyebabnya justru berasal dari dalam diri mereka sendiri.
Di lain pihak, seringkali orang tidak mampu jujur pada diri sendiri, karena salah dalam memahami keberhasilan yang sedang diraihnya.
Banyak orang berhasil, lalu mengira mampu melakukan apa saja.
Mereka mengembangkan kedua belah lengannya lebar-lebar dan menyangka akan berhasil di semua hal.
Mereka tidak mau mengakui, bahwa ada batas-batas yang tidak mungkin dilalui.
Jujur pada diri sendiri adalah bersedia untuk menerima segala sesuatu apa adanya.
Mengenali diri sendiri adalah belajar untuk menilai dan memahami diri sendiri dengan pikiran jernih tanpa dibebani dengan prasangka, harapan, ketakutan dan perasaan-perasaan lain.
2. Memaafkan segala sesuatu yang sudah terjadi, dan menerima sebagaimana adanya dengan hati lapang.
Mengenal diri sendiri bukan sekedar mengenal nama, alamat, usia, dll.
Mengenal diri sendiri adalah proses dan hubungan timbal balik antara seseorang dengan dirinya sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang terbiasa untuk berhubungan dengan orang lain. Mereka mengembangkan berbagai cara komunikasi efektif dengan orang lain demi tercapainya tujuan.
Demikian pula halnya dengan belajar mengenal diri sendiri, seseorang harus mengembangkan bentuk komunikasi timbal balik yang baik dengan dirinya sendiri.
Mereka harus menumbuhkan kemampuan untuk melihat dan mendengar apa yang dikatakan oleh dirinya sendiri agar mampu memahaminya dengan baik.
Proses itu adalah ketrampilan yang harus diasah terus-menerus.
Pada awalnya selalu terasa berat, karena sebelum bertindak, seseorang harus mengkomunikasikannya terlebih dahulu dengan dirinya sendiri :
Apakah ini adalah sesuatu yang sesuai dengan diri saya ?
Apakah ini benar-benar menjadi keinginan diri saya ?
Dengan kata lain proses mengenal diri sendiri adalah proses membangkitkan kesadaran diri. Dan, bagian terberat dalam proses ini adalah belajar untuk disiplin.
3. Melakukan disiplin diri.
Salah satu bentuk disiplin yang menuntun pada pengenalan diri adalah mengamati diri secara cermat, mengamati setiap perasaan, pikiran, harapan, keinginan, kegembiraan dan lain-lain yang terjadi dalam diri sendiri.
Pengenalan diri sendiri adalah upaya dari diri kita sendiri untuk menemukan jawaban jawaban yang ada dalam diri kita.
Para spiritualis biasa melakukan ini dengan bermeditasi, khusyu’k, mengheningkan cipta, atau berbagai istilah lain.
Pengamatan itu menumbuhkan kesadaran yang lebih tenang, yang mampu melihat secara jernih pikiran dan perasaan yang sedang terjadi, kemampuan, bakat dan ketrampilan yang dimiliki, kekuatan dan kesempatan untuk menggunakan semua pikiran, perasaan, kemampuan, bakat dan ketrampilan itu untuk sebaik-baiknya dikehidupan karier.
Pengamatan diri ini dapat dilakukan di setiap saat sambilan melakukan kegiatan sehari-hari. Justru dalam kegiatan sehari-hari itulah seseorang berkesempatan untuk menyadari betapa banyak gejolak pikiran, perasaan yang muncul silih berganti.
4. Menjadi diri sendiri.
Banyak orang mengaburkan arti "Menjadi Diri Sendiri” dengan “Semaunya Sendiri”.
Menjadi diri sendiri melalui proses mengenal diri adalah menumbuhkan pengendalian diri, karena dalam mengembangkan diri, seseorang harus senantiasa berjalan pada potensi-potensi yang dianugerahkan padanya.
Selain itu, banyak orang menjadi apa yang dikatakan orang lain dan menganggapnya itu sesuai dengan dirinya.
Yang perlu disadari adalah "bahwa setiap orang itu berbeda dan unik". Tidak ada orang yang sama. Mereka dianugerahi kemampuan, potensi dan bakat yang berbeda-beda.
Tugas manusia adalah menggunakan semua itu untuk kemajuan kehidupan.
Tujuan mengenal diri untuk pengembangan karir adalah mengenal apa potensi-potensi, bakat-bakat, kemampuan dan ketrampilan yang ada pada diri agar bisa digunakan untuk kemajuan karir.
Selain itu, mengenal diri akan menumbuhkan kesadaran dan pengendalian diri, suatu bentuk pengembangan emosi dan spiritual yang dibutuhkan untuk mengiringi langkah kemajuan karir.
Untuk bisa mengenal diri, kita wajib instrospeksi diri, wajib mengkaji diri meluangkan sedikit waktu kita untuk merenungi diri :
Apa yang sudah kita lakukan hari ini ?
Berapa banyak kesalahan dan kekurangan kita hari ini ?
Berapa banyak kita memuji dan menolong orang lain ?
Bila perlu bikin tabel kebaikan dan kejelekan prilaku kita.
Kurangi mengoreksi dan mengomentari orang lain, dan lebih fokus pada mengomentari dan mengoreksi diri kita sendiri.
Terkadang kita sibuk memikirkan dan mencari kesalahan orang lain, padahal kesalahan dan kekurangan kita sendiri sangat banyak tapi tidak pernah kita pikirkan.
Intinya adalah "SADAR", yang dimaksud sadar ini bukan hanya sekedar tersadar dari pingsan atau tersadar dari lamunan atau sadar -sadar secara umum, tetapi lebih mendalam lagi.
Sadar yang di maksud adalah "Keadaan yang kosong", keadaan yang mengerti dan memahami apa yang terjadi saat ini, kemarin dan seterusnya.
Maksud dari keadaan yang kosong :
Pernahkah kita ketika melihat telur yang agak lonjong dan ketika kita lihat menjadi berbeda ?
Pernahkah kita ketika ada warna merah dan ketika kita melihatnya bukan warna merah ?
Keadaan kosong adalah :
Ketika ada warna merah, maka kita melihatnya merah.
Ketika ada telur, maka kita melihatnya telur.
Ketika ada huruf A maka kita memahami itu huruf A.
Itu adalah kesadaran awal.
Pernahkah kita memikirkan sesuatu hal pada siang dan malam tanpa henti, sehingga ketika ada orang berbicara kita tidak mendengarnya atau kita sedang disibukkan oleh pikiran kita sendiri, ( Kita begitu asik dengan pikiran kita sendiri dan terhanyut oleh keadaan yang kita pikirkan ), sehingga yang kita alami dan kita rasakan hanya apa yang ada di pikiran kita ?
Jika kita pernah merasakannya ?, bahkan kita tidak ingat lagi apa yang sedang kita lakukan saat itu.
Pada saat kita sedang memikirkan sesuatu dan pikiran itu membuat kita terhanyut.
Seringkali kita lupa :
Ketika kita makan dan tidak merasakan rasa makanan.
Ketika kita tersentuh api, kita tidak merasakan panas.
Ketika kita tersentuh es, kita tidak merasakan dingin.
Atau kalau masih bingung coba perhatikan orang gila yang begitu asik dengan pikirannya sendiri.
Atau perhatikan orang yang sedang melamun dan asik dengan lamunannya; hal itu yang namanya isi.
Fikiranya di penuhi oleh fikiran-fikiran tertentu sehingga fakta yang sebenarnya, yang dialami tidak dihiraukan / tidak dirasakan / tidak di ingat.
Ketika kita sadar maka saat itu kita telah masuk ke alam kosong, kita melihat / mendengar / atau merasakan sesuai dengan apa adanya :
Ketika ada warna merah, maka kita melihatnya merah.
Ketika ada orang berbicara rumah, maka kita mendengarnya rumah.
Ketika tubuh kita tersentuh api, maka yang kita rasakan adalah panas.
Ketika tubuh kita tersentuh es, maka yang kita rasakan adalah dingin.
Demikian juga sebaliknya dengan kalimat berisi, ketika yang kita gumulkan ( Pikirkan / Rasakan ) saat ini hijau, maka warna apapun yang kita lihat menjadi warna hijau.
Untuk bisa mengenal diri, kita wajib instrospeksi diri, wajib mengkaji diri dan yang paling penting adalah kita hendaknya "SADAR" atau dalam keadaan kosong.
Untuk memahami dan mengenal tentang diri kita maka alangkah baiknya jika diulas dari awal penciptaan manusia.
Akan ada beberapa pendapat yang sangat kita hargai di bawah ini.
Manusia bukankah terdiri dari Jasmani, Jiwa dan Roh.
Setiap keyakinan mengakui hal itu; bahwa tiga hal itu yang menjadi dasar dari keyakinan manusia.
Banyak pendapat yang mengatakan; bahwa manusia normal adalah manusia yang mempunyai Jasmani, mempunyai jiwa dan mempunyai Roh.
Dan apabila salah satu tidak terpenuhi, maka itu bukan manusia normal. Ada yang berkeyakinan akan sependapat bahwa manusia terdiri dari Jasad, Jiwa dan Roh.
Manusia diciptakan dari "Debu Tanah".
"Debu Tanah" adalah benda mati, kemudian Allah menghembuskan "Nafas Hidup", kemudian manusia menjadi mahluk yang hidup.
Jasad berasal dari "Debu Tanah" dan "Nafas Hidup" yang menghidupkan. Manusia mengenalnya dengan Roh.
Keyakinan agama -agama besar saat ini menyakini bahwa unsur manusia ada 3 hal yaitu; ada jasad, ada Jiwa dan ada Roh, tetapi ada pendapat yang berbeda yaitu; bahwa bagian dari diri manusia hanya ada dua hal yaitu; "Jasad dan Roh".
Hanya ada dua unsur yaitu; "Debu tanah" dan "Nafas hidup".
Ada analisa yang dapat dipertanggungjawabkan baik kepada kita ( Manusia ) dan kepada Tuhan.
"Debu Tanah" dan "Nafas Hidup":
"Debu Tanah" adalah pendukung unsur Jasad / Tubuh secara Fisik".
"Nafas Hidup" adalah identik dengan pengertian Roh".
Roh yang memberi hidup pada "Debu Tanah".
Kemudian dimana letak jiwa manusia ? Apa itu jiwa, dari mana ada istilah jiwa ?
Pertanyaan yang bertubi tubi akan mengalir seperti sungai yang selalu dialiri oleh air, tidak ada habisnya.
Kita sering mendengar atau mungkin kita pernah mengatakan "Sakit Jiwa", dalam bahasa Sunda "Nu Gelo", dalam bahwa jawa "Wong edan" / "Wong Gendeng" atau istilah istilah lain, tetapi maksudnya sama yaitu orang yang tidak waras, atau orang gila, atau orang yang jiwanya sakit.
Bahkan manusia secara umum berpendapat; bahwa jiwa itulah yang membedakan manusia dengan mahluk ciptaan Tuhan yang lainnya.
Kalau pendapat demikian benar, berarti mahluk ciptaan Tuhan yang lain selain manusia tidak punya jiwa ?
Mengapa tidak memasukkan unsur jiwa sebagai bagian penyusunan diri manusia ?
Berpendapat bahwa yang dimaksud dengan jiwa adalah perpaduan dari "Jasad dan Roh".
Jiwa ini adalah tempat untuk mempertimbangkan dan membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, jiwa mempertimbangkan benar dan salah, kasih, benci, dll.
Jiwa ada karena "Debu Tanah" yang berpadu dengan "Nafas Hidup" sehingga manusia menjadi mahluk hidup.
Lalu dimanakah letak jiwa ? Banyak pendapat yang mengatakan bahwa jiwa terletak di otak, ada juga yang berpendapat bahwa jiwa terletak di hati dan masih banyak lagi pendapat pendapat yang berbeda.
"Kita akan menghargai pendapat"
Jiwa terletak di seluruh bagian tubuh karena sesuai dengan pendapat yang sebelumnya, jiwa timbul karena bersatunya "Debu Tanah" dengan "Nafas Hidup".
Seluruh bagian tubuh manusia itu namanya jiwa, hanya saja jiwa lebih halus dari jasad kasar. Hanya saja jiwa lebih dominan di otak, jantung dan hati manusia.
Mengapa ?, karena bagian tersebut yang sering dilatih. Otak sebagai pusat akal, hati sebagai pusat pertimbangan dan jantung sebagai pusat pengertian dan semuanya terkait sangat erat dengan bagian bagian dari tubuh manusia ( Yang dimaksud tubuh manusia adalah "Debu Tanah" dan "Nafas Hidup" yang telah berpadu ).
"Nafas Hidup" atau lebih familiar sebagai Roh adalah sumber hidup. Roh ada pada setiap mahluk yang hidup.
Kita saat membaca dan menulis tulisan ini adalah manusia yang hidup, tetapi pertanyaannya adalah "taukah dimana letak Roh kita ?".
Sebuah keanehan ketika kita yang hidup ini tidak mengetahui sumber kehidupan pada diri kita sendiri, dimana letak sumber kehidupan tersebut ( Roh ).
Banyak pendapat yang mengatakan bahwa :
Roh berpusat di Cakra mahkota yang terletak di otak pusat fikir manusia.
Roh berpusat di hati.
Roh bersumber dari sel indung telur dan Sperma yang menyatu sehingga menjadi sigote ( Janin ).
Roh berpusat di jantung, karena jika jantung berhenti ( Tidak berdetak ) maka manusia dipastikan sudah mati.
Roh ada di paru-paru atau saluran pernafasan, kerena Tuhan menghembuskan nafas hidup melalui hidung.
Serta masih banyak lagi pendapat. Silahkan saja berpendapat dan menghargai pendapat.
Tetapi dimana kita dapat memperoleh benang merahnya ?
Roh atau nafas kehidupan adalah bagian terpenting dari mahluk hidup sehingga dapat hidup.
Bagi manusia yang tercipta dari "Debu Tanah" maka hanyalah "Debu Tanah" jika Tuhan tidak menghembuskan Nafas Hidup.
Roh adalah misteri, tetapi benarkah sebuah misteri ? dan mengapa mejadi misteri ?
Pertanyaan ini terasa berat untuk di jawab.
Apakah kita saat membaca dan menulis tulisan ini adalah manusia yang hidup ? Tentu saja "YA". Berarti di dalam diri kita saat ini ada Roh, karena kita hidup.
Bisakah kita saat ini merasakah keberadaan Roh kita ?
Tidak ada seorangpun yang mengetahui dengan pasti dimana letak Roh. Bukankah aneh ?
Mengaku hidup tetapi tidak mengetahui dimana letak sumber hidupnya.
Manusia hanya bisa merasakan bahwa dirinya hidup, tetapi tetap sebuah misteri mengenai Roh.
Sebegitu halusnya Roh, sehingga jasad kasar ini tidak dapat merasakannya.
Manusia moderen yang lebih berfokus pada kemampuan fisik lebih lebih kemampuan intelegensia ( Otak ) yang paling sering digunakan sehingga tidak mampu menembus Roh yang sejatinya sangat halus.
Sehingga kita yang saat ini hidup tidak dapat memahami dan mengetahui keberadaan Roh yang ada pada diri sendiri.
Karena yang hidup dari diri manusia adalah seluruh bagian manusia hidup, dari ujung rambut hingga ujung kaki, maka sejatinyalah Roh berada juga di seluruh bagian yang hidup tersebut.
Jika tidak, maka "Debu Tanah" itu akan tetap menjadi "Debu Tanah.
Sama hal nya seperti sebuah pohon, saat daunnya gugur / rontok apakah daun itu dikatakan hidup ?
Faktanya saat ini manusia bisa mengembangkan berjuta juta tanaman baru dari daun atau bagian tanaman yang terlepas dari induknya ( Yang notabane bagian tanaman mati ) dengan metode.
Buah yang mengandung biji misalnya buah harus gugur / terjatuh yang otomatis terlepas dari pokoknya, bukankah biji yang berada didalam buah secara kultur telah mati karena tidak terhubung dengan pokoknya, tetapi perlu diingat bahwa biji yang telah mati tersebut mengandung embrio kehidupan yang dapat tumbuh menjadi benih, bibit dan menjadi tumbuhan.
Roh itulah bagian yang paling murni dari mahluk yang hidup. Roh yang memberi hidup yang tinggal dan ada pada diri kita ( Manusia ).
Roh adalah bagian terpenting dari diri kita, tetapi karena Roh itu tidak dapat kita ketahui keberadaannya, maka seringkali kita hanya berfokus pada jasad kasar kita atau paling dalam hanya sebatas pada olah jiwa.
Roh ini tidak tersentuh sama sekali dan tidak terpahami.
Roh ini berasal dari Tuhan dan adalah bagian dari Tuhan, atau dengan kata lain Roh itu adalah Tuhan.
Jika Roh ada pada mahluk yang hidup maka disana juga ada bagian dari Tuhan.
Biarlah Roh ini tetap menjadi misteri, karena memang adalah rahasia Tuhan.
Apa yang bisa kita petik dan pelajari dari tulisan ini adalah; jika kita mengenal dan memahami Roh yang ada pada diri kita, maka kita juga dapat mengenal Tuhan dan memahami Tuhan.
Itulah alasan mengapa kita tidak perlu mencari Tuhan ditempat tempat tertentu di dunia ini, karena bisa dipastikan kita tidak akan menemukannya.
Jika kita mencari tuhan diluar diri kita, maka kita hanya bisa menemukan Keagungan dan Kemuliaan Tuhan. Kita tidak akan bisa menemukan Tuhan.
Untuk itulah tulisan ini ada, dengan harapan kita semua dapat "Menyadari" dan memberikan "Inspirasi" agar jika kita ingin menemukan Tuhan maka janganlah mencari ditempat lain, tetapi carilah didalam diri kita sendiri.
Karena didalam diri kita ada bagian dari Tuhan yang dapat menghubungkan kita dengan Tuhan; yaitu Roh kita sendiri.
Apabila kita memahami dan mengenal Roh yang membuat diri kita hidup, maka dipastikan bahwa pada saat itu kita telah menemukan Tuhan, bahkan akan ada seperti gambar dan rupa Tuhan.
Roh inilah yang menjadi perantara kita ( Mahluk Ciptaan ) dengan Sang Pencipta ( Tuhan ).
Kenali Roh kita, maka kita akan mengenal Tuhan.
Roh itu adalah murni tidak berwarna dan tidak berasa, Dia memberi, menjadikan hidup dan kehidupan.
Bagaimana caranya supaya kita dapat memahami dan mengenal Roh yang ada dalam diri kita ?
Mencondongkan diri kita ke jasad kita yang paling halus, yaitu pada Roh kita.
Kelihatannya mudah karena hanya melihat kedalam diri kita sendiri, tetapi jangan lupa bahwa kita ( Manusia ) yang hidup saat ini tidak dapat mengetahui dan merasakan keberadaan Roh yang ada didalam diri kita.
Berkata memang mudah, tetapi melaksanakannya yang sulit, walaupun kita tidak harus pergi kemana-mana, walaupun kita tidak harus mengeluarkan tenaga atau uang sekalipun.
Salam kenal. 6('2')9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar