Minggu, 08 Desember 2013

Merasa Sendirian

Apakah kita pernah merasa kesepian?
Ketika tiba-tiba menyadari bahwa kita tidak punya hubungan dengan siapa pun.
Bukan suatu kesadaran intelektual, melainkan kesadaran aktual.
Setiap pikiran dan emosi terhalang, tidak bisa berpaling ke mana pun, tidak ada siapa pun untuk didatangi.

Kita sepenuhnya sendirian jika membebaskan diri dari :
-Struktur sosial.
-Keserakahan.
-Iri hati.
-Ambisi.
-Arogansi.
-Pencapaian.
-Status.

Kita sendirian dan menimbulkan kesepian jika membangun dinding antara kita dan tetangga melalui :
-Nasionalisme.
-Ras.
-Kasta.
-Kelas.

Batin yang terperangkap dalam keadaan kesepian.
Jika sepenuhnya sendirian dan batin sepenuhnya bebas dari segala macam pengaruh.
Maka tidak akan tercemar oleh masyarakat.

Kesepian.
Kesepian beda dengan kesendirian.
Kesepian itu sepenuhnya sendirian.

Pikiran tidak mungkin bisa memahami kesendirian.
Tetapi ketika kesepian menyadari kesepian, muncullah kesendirian.Hanya dengan demikian bisa muncul apa yang tidak terukur.
Pikiran tidak mungkin bisa melihatnya, tidak mungkin bisa memahaminya, hanya bisa mengetahui kesepian.

Dalam kesendirian terdapat kepolosan.
Kita mungkin menarik diri ke gunung dan hidup sebagai petapa, tetapi sementara kita secara fisik berada sendiri.
Kita memiliki seluruh gagasan-gagasan kita, pengalaman kita, tradisi kita, pengetahuan kita tentang masa lalu.

Kita tidak bisa hidup seperti itu di dunia ini.
-Orang harus pergi mencari nafkah setiap hari.
-Membuat anak.
-Menanggung gerutu pasangan kita, dan sebagainya.

Dari kesendirian ini muncul suatu kebajikan yang kuat yang membawa rasa luar biasa akan kemurnian dan kelembutan.
Tidak penting apakah kita membuat kesalahan; itu sangat tidak penting.
Yang penting adalah memiliki rasa berada sendiri sepenuhnya, tidak tercemari, oleh karena hanya batin seperti itulah yang dapat mengetahui atau menyadari apa yang berada di luar kata-kata, di luar nama, di luar segala proyeksi imajinasi.

Orang yang sendiri adalah polos.
Salah satu penyebab penderitaan adalah kesepian luar biasa manusia.
Kita mungkin memiliki teman.
Kita mungkin memiliki tuhan.
Kita mungkin memiliki pengetahuan yang luas.
Kita mungkin aktif luar biasa di bidang sosial, bergunjing tidak habis-habisnya tentang politik dan itulah yang dilakukan oleh kebanyakan politis.
Oleh karena itu manusia mencari satu makna dalam kehidupan, dan menciptakan satu makna, satu arti.

Tetapi kesepian itu tetap ada.
Jadi, dapatkah kita memandangnya tanpa pembandingan sedikit pun, sekadar melihat apa adanya, tanpa mencoba lari darinya, tanpa mencoba menutupinya, atau meloloskan diri darinya?

Maka kita akan melihat kesepian itu menjadi sesuatu yang beda.

Kita tidak sendiri.
Kita adalah hasil dari ribuan pengaruh, ribuan pengkondisian, warisan psikologis, propaganda, budaya.
Kita tidak sendiri, dan oleh karena itu kita adalah manusia bekas.
Bila kita sendiri. Sendiri sepenuhnya
Tidak termasuk keluarga siapa pun.
Tidak termasuk bangsa apa pun.
Budaya apa pun.
Komitmen apa pun.
Terdapat rasa sebagai orang luar, orang luar terhadap setiap bentuk pikiran, tindakan, keluarga, bangsa.

Hanya dialah yang sepenuhnya sendiri yang polos.
Kepolosan inilah yang membebaskan batin dari penderitaan.

Bukankah ini berarti harus ada pemberontakan terhadap penyesuaian diri, pemberontakan terhadap keterhormatan, karena orang yang terhormat adalah orang yang remeh karena ia menginginkan sesuatu, ia bergantung pada pengaruh demi kebahagiaannya, pada apa yang dikatakan orang lain, pada apa yang dikatakan gurunya.
Batinnya tidak pernah sendiri. Ia tidak pernah berjalan sendiri, melainkan ia selalu berjalan dengan seorang teman, ditemani oleh gagasan-gagasannya.

Tidakkah penting untuk menemukan, melihat seluruh makna dari campur tangan, dari pengaruh, kemapanan.
Dengan melihat keseluruhan itu, mau tidak mau timbul pertanyaan:
mungkinkah dengan seketika menghasilkan keadaan batin yang tidak terpengaruh, yang tidak dapat dipengaruhi oleh pengalamannya sendiri atau pengalaman orang lain, batin yang tidak ternoda, yang berada sendiri?

Kesendirian tidak ada ketakutan.
Hanya jika batin mampu menanggalkan semua pengaruh, semua campur tangan, dan berada sepenuhnya sendiri terdapat kreativitas.
Di dunia, makin lama makin banyak teknik dikembangkan.
"Teknik bagaimana menpengaruhi orang melalui propaganda, melalui pemaksaan, melalui peniruan."

"Tidak terhitung banyaknya buku ditulis tentang bagaimana melakukan ini-itu, bagaimana berpikir efisien, bagaimana membangun rumah, bagaimana membuat mesin, sehingga berangsur-angsur kita kehilangan inisiatif, inisiatif untuk memikirkan sesuatu yang orisinal bagi kita sendiri."
"Dalam pendidikan kita, dalam hubungan kita dengan pemerintah, dengan berbagai cara, kita dipengaruhi untuk menyesuaikan diri, untuk meniru."
"Dan bila kita membiarkan suatu pengaruh membujuk kita untuk mengambil sikap atau tindakan tertentu, dengan sendirinya kita menciptakan perlawanan terhadap pengaruh-pengaruh yang lain."
"Di dalam proses menciptakan perlawanan terhadap pengaruh lain, tidakkah kita menyerah kepadanya secara negatif?"

Tidakkah batin seharusnya selalu berada dalam keadaan berontak, untuk dapat memahami berbagai pengaruh yang selalu menerpa, mencampuri, mengendalikan, membentuk?
Bukankah salah satu sifat batin yang remeh adalah selalu ketakutan karena bingung, menghendaki ketertiban, menghendaki konsistensi, menghendaki suatu wujud, suatu bentuk yang dapat menuntunnya dan mengendalikannya.

Wujud-wujud ini, pengaruh menciptakan kontradiksi di dalam individu, menciptakan kebingungan di dalam individu.
Pilihan apa pun di antara berbagai pengaruh itu tetap berada di dalam keremehan itu.

Tidakkah batin seharusnya memiliki kemampuan untuk menyelami, bukan meniru, bukan dibentuk dan untuk berada tanpa ketakutan?
Tidakkah seharusnya batin seperti itu berada sendiri dan dengan demikian kreatif?

Kreativitas seperti bukan milik kita atau milik saya; dia anonim.

Salam. 6('2')9

Tidak ada komentar: